Search This Blog

Monday, November 28, 2011

saatnya diklat mitigasi bencana

wahh..lama gak update nich..tau2 udah mau penghujung tahun..(kalo taon islam, sich uda memasuki taon baru..1433 Hijriyah..
akhirnya juga bisa menyambangi Kota Jogja tercinta, cuz ni ikutan Diklat Mitigasi Bencana yang diselenggarakan Bappenas kerjasama dengan Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM. asyiknya lagi, selain ketemu temen baru, kebetulan panitianya juga anak2 eks Geografi UGM, plus dosen2 pengajarnya juga ada yang dari GEo (seperti Prof Tikno, Prof Sudibyakto, Dr. Jarot). Banyak hal yang bisa dipelajari dari diklat ini. Tadinya uda was-was gak bakalan boleh berangkat diklat dari pihak kantor, maklum akhir tahun kan kegiatan tutup tahun anggaran akan banyak menyita waktu dan tenaga..tapi untungnya Kepalaku mengizinkan dan malah yang mensupport supaya ikut. di samping itu, dibidangku masih ada staf lain..kalo temen di bidang sosbud, malah ga dibolehin ikutan yang di ITB tentang Pro poor n Budgeting, yaahh..beginilah kalo nasib SDM daerah yang dibebani tugas administrasi..akhirnya kesempatan untuk peningkatan kapasitas sdm harus dikalahkan dengan dalih tugas administrasi yang menurutku itu bukan tupoksi formasi ybs..semoga next time ada reformasi birokrasi yang bener2 berjalan baik. selain itu, taon depan mbak anik, bisa berangkat lah..qt sama2 yuks ikutan bappenas lagi.
Ngomong2 soal bencana, memang negara kita itu akrab dengan bencana (alam kayak tanah longsor, gunung api, dll) Wonosobo juga gitu..makanya paradigma qt musti diubah dari yang awalnya bencana adalah tiba2 terjadi, terpisah dari kehidupan..sekarang diubah bahwa bencana adalah satu siklus dalam kehidupan manusia..bagaimana qt akan hidup harmoni dengan alam dan bencana (karena qt tinggal di daerah rwan bencana)..yang perlu disadari juga adalah adanya mitigasi bencana, kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehab rekons..btw, satu hal yang cukup mengagetkan adalah bahwa status gunung sindoro sumbing adalah tipe A, aktif juga kayak Merapi cuma frekuensinya yang beda. ma tipe letusannya. jadi yang penting tetap waspada, hidup berdampingan dengan alam...next time sambung lagi ya...

Thursday, September 22, 2011

Perkembangan Daerah Perdesaan



Daerah perdesaan dapat didefinisikan sebagai daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah dengan kriteria ekonomi, sosial, dan geografis tertentu. Kriteria ekonomi pedesaan sangat tergantung atau mengandalkan dari pendapatan pertanian. Kriteria sosial, menunjukkan prilaku kehidupan masyarakat yang sangat terkait dengan pertanian dan kepadatan penduduk yang rendah. Kriteria geografis, daerah perdesaan lokasinya relatif jauh dari daerah perkotaan. Jika suatu daerah perdesaan mengalami perkembangan maka akan terjadi aktifitas yang tinggi sehingga dapat memicu peningkatan pemanfaatan sumberdaya alam. Dengan meningkatnya pemanfaatan suatu sumberdaya alam tertentu maka akan dapat mengurangi atau mempengaruhi potensi sumberdaya yang lain. Perkembangan daerah perdesaan yang tidak terkendali berpotensi mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pembukaan lahan baru serta  urbanisasi. 

Perubahan daerah perdesaan menjadi perkotaan dapat dilihat berdasarkan perubahan karakteristik berikut ini. Segregasi: pemisahan daerah-daerah perdesaan ke dalam blok-blok dengan harga perumahan yang berbeda kelasnya. Imigarasi terpilih: adanya beberapa orang yang bekerja pada tempat dan kondisi sosial ekonomi yang terpisah. Adanya fenomena ulang-alik (comuniting) pekerja kelas menengah. Serta kondisi geografis yang sudah sulit dikenali perbedaan dengan hirarkis sosial yang terpisah.

Selain permasalahan perkembangan perdesaan menjadi perkotaan, daerah perkotaan itu sendiri memiliki banyak permasalahan akibat dari urbanisasi dan pembukaan lahan baru. Permasalahan yang sering timbul antara lain; (1) terjadinya kenaikan temperatur pada titik-titik tertentu yang disebut juga polusi temperatur (thermal pollution), (2) ketidaknyamanan (discomfort index), (3) tingkat pencemaran. Pada daerah perkotaan kenaikan temperatur biasanya terjadi pada titik-titik tertentu akibat dari aktifitas kendaraan bermotor dan industri. Kepadatan kendaraan bermotor merupakan pemicu utama terjadinya kenaikkan temperatur, selain itu dapat juga karena aktifitas industri serta kepadatan permukiman. Akibat dari peningkatan temperatur tersebut mengakibatkan meningkatnya indeks ketidaknyamanan. Meningkatnya indeks ketidaknyamanan juga dapat diakibatkan karena faktor pencemaran, baik pencemaran udara, tanah, maupun air. Dengan demikian dapat kita lihat bahwa sumber dari permasalahan perkotaan adalah penduduk itu sendiri. Hal tersebut juga dipicu dengan prilaku masyarakat yang kurang memikirkan lingkungannya sebagai akibat dari cara pandang yang memandang lingkungan itu adalah milik publik dimana tidak ada batasan dalam pemanfaatannya.